Berita Pesantren Dumai – Seorang wali santri kelas 1 Ula SD Ponpes Al Amin Dumai Ibu Watini pagi senin, 15 Desember 2025 menghadap ke Pimpinan Ponpes Kyai W Zainal Abidin terkait hajatnya untuk mengaqiqahkan putrinya yang bernama Luthfiyah Usna Binti Arman dengan seekor kambing jantan

Pelaksanaan penyembelihan hewan aqiqah dilaksanakan hari senin, 15 Desember 2025 di lokasi penyembelihan aqiqah dan qurban pada pukul 15.09 Wib. Tim Pelaksanaan aqiqah tersebut, Ustadz Sulaiman bagian menyembelih hewan didampingi pimpinan Pondok dan santri Aliyah/SMA dan Wustha/SMP serta dikawal oleh Pak Firdaus yang melanjutkan penanganan setelah disembelih sampai berupa potongan-potongan daging yang siap dimasak untuk diserahkan ke bagian dapur.
Alhamdulillaah bakda magrib masakan Aqiqah dihidangkan ke guru dan santri Pondok Pesantren Al Amin Dumai setelah pelaksanaan doa walimah aqiqah atas nama Lusthfiyah Usna binti Arman dan beberapa makanan dalam bungkusan yang dikirmkan ke faqir miskin serta tetangga sekitar lingkungan pesantren.
Ponpes Al Amin Dumai selain menyelenggarakan pendidikan, dakwah dan pemberdayaan ekonomi juga menerima pelaksanaan aqiqah dan qurban bagi masyarakat sejak awal berdirinya tahun 2004.
Nilai Spiritual Pelaksanaan Aqiqah
Kyai W Zainal Abidin yang juga sebagai Rois Jajaran Idaroh Wustha JATMAN Provinsi Riau beiau mengatakan bahwa secara syariat Aqiqah adalah sunnah muakkadah sebagai bentuk syukur dan kepedulian sosial. Secara tasawuf/thoriqoh Aqiqah adalah simbol penyucian jiwa, pelepasan sifat duniawi, dan langkah awal mengenalkan anak pada jalan spiritual menuju Allah. Dengan demikian, aqiqah bukan hanya ritual lahiriah, tetapi juga ibadah batiniah yang memperkuat hubungan manusia dengan Allah dan sesama.
Selain sebagai syiar, pelaksanaan aqiqah memiliki makna spiritual yang mendalam:
- Sebagai bentuk syukur. Orang tua menunjukkan rasa syukur atas kelahiran buah hati.
- Sebagai perlindungan anak. Doa dan ibadah ini menjadi wasilah penjagaan Allah terhadap anak.
- Sebagai sarana berbagi. Daging aqiqah dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan fakir miskin, sehingga menumbuhkan ukhuwah Islamiyah.
Kajian Terkait Aqiqah Menurut Tradisi Nahdliyyin
Dalam tradisi umat Islam, khususnya Nahdliyin, kelahiran seorang anak ke dunia biasa dirayakan dengan aqiqah. Aqiqah adalah sebutan binatang yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahiran bayi.
Sebagaimana dalam hadits Nabi, hukum menyembelih aqiqah sunah muakkadah.
عَنْ سَمُرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الغُلَامُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ يُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ، وَيُسَمَّى، وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ
Artinya: Dari Samurah, ia berkata, Nabi bersabda: Seorang bayi itu digadaikan dengan (jaminan) aqiqahnya; aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh (dari hari kelahiran), (pada hari itu pula) si bayi diberi nama dan dipotong rambutnya (HR Sunan al-Tirmidzi 4/101, dalam kitab Al-Adlaha bab Al-aqiqah).
Pada umumnya, binatang untuk aqiqah sama dengan ketentuan dalam kurban. Baik jenis, usia, dan keharusan tidak cacatnya. Yang lebih sempurna (atau lebih utama menurut beberapa kitab fiqih) sebagai aqiqah adalah 2 ekor kambing atau domba yang sepadan untuk bayi laki-laki. Sedangkan untuk bayi perempuan cukup 1 ekor kambing atau domba. Jika kemampuan finansialnya hanya mampu menyembelih seekor kambing untuk bayi laki-laki, maka penunaian sunah aqiqah sudah terpenuhi. Masing-masing kambing ini adalah kambing yang memenuhi syarat sah yang dikurbankan.
Untuk waktu penyembelihan hewan setelah bayi lahir dengan sempurna. Yang lebih utama adalah menyembelih pada hari ketujuh dari kelahiran. Jika tidak terlaksana, menurut pendapat yang dipilih, masih bisa dilaksanakan sebelum lewat masa nifas (ibunya). Jika tidak terlaksana juga, maka dilaksanakan sebelum melampaui masa penyusuan; lalu sebelum si bayi mencapai usia 7 tahun. Bisa juga sebelum si bayi baligh. Jika bayi tidak diaqiqahi sampai masuk masa baligh, maka kesunahan aqiqah gugur dari kedua orang tuanya. Sedangkan si anak boleh (memang sebaiknya) mengaqiqahi dirinya sendiri setelah itu.
Do’a walimah al-‘Aqiqah
اللهم احْفَظْهُ مِنْ شَرِّالْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَأُمِّ الصِّبْيَانِ وَمِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ وَالْعِصْيَانِ وَاحْرِسْهُ بِحَضَانَتِكَ وَكَفَالَتِكَ الْمَحْمُوْدَةِ وَبِدَوَامِ عِنَايَتِكَ وَرِعَايَتِكَ أَلنَّافِذَةِ نُقَدِّمُ بِهَا عَلَى الْقِيَامِ بِمَا كَلَّفْتَنَا مِنْ حُقُوْقِ رُبُوْبِيَّتِكَ الْكَرِيْمَةِ نَدَبْتَنَا إِلَيْهِ فِيْمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ خَلْقِكَ مِنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَأَطْيَبُ مَا فَضَّلْتَنَا مِنَ الْأَرْزَاقِ اللهم اجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَهْلِ الْخَيْرِ وَأَهْلِ الْقُرْآنِ وَلَا تَجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنْ أَهْلِ الشَّرِ وَالضَّيْرِ وَ الظُّلْمِ وَالطُّغْيَانِ
“Allâhummahfadzhu min syarril jinni wal insi wa ummish shibyâni wa min jamî’is sayyiâti wal ‘ishyâni wahrishu bihadlânatika wa kafâlatika al-mahmûdati wa bidawâmi ‘inâyatika wa ri’âyatika an-nafîdzati nuqaddimu bihâ ‘alal qiyâmi bimâ kalaftanâ min huqûqi rububiyyâtika al-karîmati nadabtanâ ilaihi fîmâ bainanâ wa baina khalqika min makârimil akhlâqi wa athyabu mâ fadldlaltanâ minal arzâqi. Allâhummaj’alnâ wa iyyâhum min ahlil ‘ilmi wa ahlil khairi wa ahlil qur`âni wa lâ taj’alnâ wa iyyâhum min ahlisy syarri wadl dloiri wadz dzolami wath thughyâni.”
“Ya Allah, jagalah dia (bayi) dari kejelekan jin, manusia ummi shibyan, serta segala kejelekan dan maksiat. Jagalah dia dengan penjagaan dan tanggungan-Mu yang terpuji, dengan perawatan dan perlindunganmu yang lestari. Dengan hal tersebut aku mampu melaksanakan apa yang Kau bebankan padaku, dari hak-hak ketuhanan yang mulia. Hiasi dia dengan apa yang ada diantara kami dan makhluk-Mu, yakni akhlak mulia dan anugerah yang paling indah. Ya Allah, jadikan kami dan mereka sebagai ahli ilmu, ahli kebaikan, dan ahli Al-Qur’an. Jangan kau jadikan kami dan mereka sebagai ahli kejelekan, keburukan, aniaya, dan tercela.”
Sumber: https://jatim.nu.or.id/keislaman/panduan-dan-ketentuan-soal-aqiqah-7VRPI
___
Download NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap! https://nu.or.id/superapp (Android/iOS)
